Warga 10 desa di Kecamatan Lekok dan Nguling, Kabupaten Pasuruan, masih berkonflik dengan TNI AL. Bahkan, dalam kurun waktu sebulan terrakhir konflik kembali memanas seiring rencana pembangunan Batalyon dan Sekolah Tamtama oleh Kolatmar TNI AL.
Rencana Kolatmar TNI AL membangun Batalyon di Dusun Gunung Bukor, Desa Sumberanyar, Kecamatan Nguling dan Sekolah Tamtama di Desa Semedusari, Wates, Pasinan, Kecamatan Lekok, ditolak oleh warga. Meski area pembangunannya berada di lahan milik TNI.
Sedankan persoalan ini tidak bisa diselesaikan hanya di tingkat pemerintah daerah. Melainkan harus menunggu kebijakan Pemerintah Pusat. TNI harus melaksanakan tugas yang telah ditetapkan. Di sisi lain, warga terus menolak, bahkan sampai berkali-kali melakukan aksi unjuk rasa. Meski sejatinya, mereka menyadari, pembangunan tersebut berada di lahan mlik TNI AL.
Paur Pam Puslatpur 3 Grati Lettu Mar Sutikno menyampaikan, sebenarnya masyarakat saat ditanya lahan lokasi pembangunan milik siapa? Mereka menjawab milik TNI. Namun, meski mengetahui status lahannya, mereka tetap kekeh menolak. “Kalau ditanyak satu persatu, jawabnya begitu. Mereka mengakui kalau itu tanah milik TNI,” ujarnya.
Ia meyakini penolakan pembangunan ini lantaran ada yang sengaja mengadu domba antara warga dengan TNI AL, sehingga membuat warga kemudian melakukan penolakan. “Saya sudah survei berkali-kali. Kami enak hidup berdampingan bersama warga,” ujarnya.
Pembangunan Sekolah Tamtama dan Batalyon, kata Sutikno, merupakan pembangunan dari pusat. Selain itu, pembangunan Batalyon se-Indonesia, jumlahnya ada ratusan. Salah satunya di Grati. Sejauh ini, mayoritas pembangunan di lokasi lain sudah berjalan.
PGS Komandan Puslatpur Mar 3 Grati Mayor M. Yamin menyampaikan, pembangunan Batalyon dan Sekolah Tamtama ini sudah dikaji secara matang. Termasuk bagaimana sekiranya tidak terjadi bentrok dengan warga. “Namun, kok masih ada bentrok,” ujarnya.
Batalyon ini dibangun di Dusun Gunung Bukor, Desa Sumberanyar, Kecamatan Nguling. Sedangkan, Sekolah Tamtama di tiga desa di Kecamatan Lekok. Kata Yamin, lokasi itu dipilih karena lokasi lain sudah dijadikan tempat latihan terjun dan lainnya.
Sejauh ini warga menolak pembangunannya dengan alasan tidak akan bisa lagi mencari rumput selain di lahan yang kini dibangun Batalyon. Meski, sejatinya di lokasi lain banyak tumbuh subur rumput untuk pakan ternak.
Namun, demi kemanusiaan, Yamin mengatakan, setiap keluhan masyarakat selalu disampaikan ke atasan, bahkan sampai ke Pemerintah Pusat. Sejauh ini, perintahnya masih harus dilanjutkan.
Komandan Batalyon Infanteri 3 Marinir Letkol Marinir Adid Kurniawan Wicaksono menjelaskan, Batalyon Infanteri 15 Marinir (Yonif 15 Mar) yang bermarkas di Grati, Pasurua bukan satuan tempur baru. Melainkan juga wadah yang mengadopsi identitas lokal ke dalam semangat tempurnya.
Karakteristik khas Batalyon ini tercermin kuat pada logo kebanggaan mereka, Orca atau paus pembunuh. Pemilihan simbol ini bukan tanpa alasan. Orca dikenal sebagai predator puncak di lautan yang cerdas dan memiliki kemampuan navigasi unggul. Serta, berburu secara terorganisir dan kolaboratif -sebuah metafora sempurna untuk pasukan pendarat amfibi Marinir yang harus bergerak cepat, terkoordinasi, dan mematikan dalam operasi.
“Karakter Orca yang agresif, namun sangat loyal terhadap kelompoknya kini melebur dengan budaya Pasuruan,” jelasnya.
Keterikatan ini diperkuat melalui asimilasi nilai-nilai budaya pesisir yang kental di Pasuruan. Yonif 15 Mar berupaya menanamkan semangat pantang menyerah dan kerja keras yang menjadi ciri khas masyarakat pesisir dan petani di wilayah tersebut.